Image

Calvin Jeremy in Action

1 Jun

Calvin Jeremy in Action

“Dua cintaa, dalam satuu hatii” ~ potongan lagu milik Calvin Jeremy. Penampilan live dia, asik banget!

Advertisements
Image

Ekspresi Asli Berkat Tarik Tambang

1 Jun

Ekspresi Asli Berkat Tarik Tambang

Hubungan Internasional (HI) Cup merupakan salah satu ajang olahraga tahunan di HI Unair. Saya paling senang mengabadikan ekpresi ketika kawan – kawan saya mengikuti pertandingan yang bisa mengeluarkan wajah asli mereka. Semangat mereka untuk memenangkan pertandingan tarik tambang tergambar jelas dari kerutan di wajah mereka.

Image

Old Town

1 Jun

Old Town

Semarang merupakan ibu kota Jawa Tengah yang masih melestarikan bangunan sejarahnya. Beberapa bangunan koloni ini bahkan masih digunakan sebagai kantor.

Borobudur oh Borobudur…

27 May

Sebagai salah satu keajaiban dunia, Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah pasti mempunyai kenangan bagi para pengunjungnya. Bangunan megah dari susunan bebatuan selesai dibangun pada tahun 847 Masehi. Bagi umat Buddha, Candi Borobudur merupakan salah satu lokasi beribadah dan suci. Sedangkan bagi umat non Buddha atau wisatawan, tak heran jika lokasi ini menjadi lokasi berfoto dan menikmati pemandangan sekitar Candi Borobudur. Mungkin sedikit pula dari mereka yang tahu mengenai sejarah dan penggunaan Candi Borobudur sendiri.

Waisak, adalah perayaan agama bagi umat Buddha yang diterapkan sebagai libur nasional di Indonesia. Bahkan perayaan Waisak yang terkenal mengagumkan ini terdengar hingga mancanegara. Salah satu faktor yang membuat Waisak ini banyak dinanti oleh masyarakat adalah lokasi perayaannya dilaksanakan di Candi Borobudur. Tak heran jika tiap tahunnya pada perayaan Waisak, candi ini dihadiri oleh ribuan pengunjung. Namun, apakah Waisak kali ini masih menjadi acara suci bagi umat Buddha?

                                                              IMG_5723

Tahun 2013 ini, Waisak tepat jatuh pada Sabtu, 25 Mei. Sebagai seorang wisatawan, saya sebenarnya juga ingin tahu seperti apakah perayaan Waisak ini. Sekitar pukul 17.00, gerimis mulai turun. Akan tetapi, antusiasme pengunjung untuk menyaksikan prosesi perayaan Waisak masih membara. Alhasil, para wisatawan berdesak – desakan untuk meraih posisi nyaman demi melihat ritual doa umat Buddha. Di depan panggung digelar karpet yang dipenuhi oleh ribuan manusia yang sangat antusias menyaksikan perayaan Waisak tahun ini.

Hujan yang terus mengguyur kawasan Candi Borobudur ini akhirnya membuat para panitia dari Walabi untuk menunda pelepasan 1000 lampion. Lampion yang diterbangkan ini memang menjadi momen yang ditunggu oleh para wisatawan. Namun, jika hujan yang terus turun dan tak kunjung reda ini seharusnya bukan menjadi hal yang harus disalahkan dan mendapat protes dari wisatawan. Hujan tersebut akhirnya menghasilkan keputusan untuk menerbangkan lampion di malam esoknya, 26 Mei. Meskipun tidak dapat melihat secara langsung pada pelepasan lampion ini, saya sangat kagum melihat keelokan lampion yang terbang ini. Lampion ini menyimpan ribuan harapan dari umat Buddha dan para wisatawan yang membeli lampion. Mereka menulis harapan pada secarik kertas dan menempelkannya di lampion tersebut. Konon akan menjadi kenyataan.

Toleransi dan Menghargai

Suguhan keindahan tatanan panggung sangat terkesan megah. Terlihat jelas patung Buddha dengan berukuran besar berwarna emas diletakkan di depan panggung. Lampu sorot yang menyinari Candi Borobudur juga menjadi salah satu keindahannya. Jajaran kamera berderet, mulai dari kamera handphone, pocket, hingga DSLR yang berlomba untuk mendapatkan foto terbaik. Tetapi, mungkin ada hal yang terlupakan oleh para pengunjung. Yaitu toleransi dan menghargai. Sebagai wisatawan, saya sangat berempati dengan umat Buddha yang membuka kesempatan bagi wisatawan untuk melihat prosesi berdoa. Akan tetapi, jumlah wisatawan yang hadir benar – benar diluar kapasitas. Untuk berjalan saja sangat sulit. Terlebih lagi, para monk atau biksu banyak yang kesulitan untuk berjalan menuju panggung untuk melakukan ritual doa. Hal ini disebabkan banyaknya wisatawan yang memenuhi jalan bagi para biksu tersebut. Selain itu, keramaian dan desakan wisatawan dapat menghambat umat Buddha yang benar – benar ingin berdoa. Anjuran untuk tenang dan mematikan nada dering diacuhkan oleh wisatawan. Apalagi, ketika anjuran untuk para fotografer agar tidak menggunakan flash juga tidak dihiraukan. Walaupun masalah kecil, namun untuk ‘menghargai’ saja menjadi barang yang langka.

Sependapat dengan pepatah ini, “Fotografi adalah kebebasan, tapi jangan menginjak kebebasan orang lain” (Arbain Rambey).  Mungkin hal ini tidak berlaku hanya pada fotografer saja. Tapi bagi semua wisatawan yang berkunjung ke lokasi wisata, khususnya yang berkaitan dengan wisata religi. Mari kita menghormati aturan yang telah dibuat. Terutama dalam berpakaian dan menjaga ketertiban. Saya berharap perayaan Waisak di tahun selanjutnya tetap memberikan ruang bagi para wisatawan. Hanya saja, aturan yang dibentuk harus lebih tegas. Begitu pula dengan aparat yang menjaga keamanan untuk bekerja secara profesional. Semoga keindahan dan kebersamaan ketika perayaan Waisak ini tidak menjadi hambatan dalam menjaga kerukanan umat beragama. Selamat Waisak bagi umat Buddha! Damai kasih menyertai kita semua. 🙂

Image

Kebaya ala Modern

13 May

Kebaya ala Modern

Foto pertama yang berhasil memberikan kemengangan juara 2 dalam suatu Coaching Fotografi bertema “Ufuk Timur”.

Kebaya yang ia gunakan benar – benar membuat saya terpesona. Cantik. Meskipun modelnya jadi lebih ala Western, tapi truly kebaya ini memilik motif dan payet yang bagus.

Image

The Deer Skull

3 Feb

The Deer Skull

Bekol, Baluran, is National Park located in East Java. The view is almost similar with Savanna in Africa. The man put skulls in the edge of road. So, people can see it when they walk in front the lodging.

Ketagihan Film Perancis

21 Jan

Dateng di Festival Sinema Perancis yang diadakan di Surabaya pada 19 – 20 Januari sama sekali tidak merugikan. DI Theater XXI Ciputra World, dua film membuatku kecanduan terhadap film – film Perancis. Ada beberapa alasan yang membuatku tertarik. Pertama, tentu aja jalan ceritanya. Sebagus apapun latarnya, kalau jalan ceritanya boring, bakal aku tinggal tidur. Alasan kedua, Francais. Aksen Perancis emang mempesona. Kagum banget kalau denger mereka ngobrol, marah – marah, dan percakapan lainnya dalam bahasa asing ini. Bahasa Perancis kan susah, tobat deh belajar bahasa ini, hehe. Ketiga, setting tempat. Melihat gedung – gedung ala Eropa sungguh menyehatkan mata. Mereka truly menjaga arsitektur klasik. Salute! Indonesia harus meniru ya. Lestarikan dong bangunan bersejarah kita! Dan alasan keempat adalah, THE FOOD! Yes yes, I love the food. Tatanan makanan Barat emang patut dipuji. Apik dan menggoda banget. Meskipun not try it yet. Someday ya patut dicoba kalau berkunjung ke Perancis.

Comme un Chef dan Intouchables adalah dua film Perancis yang aku dan teman – temanku pilih. Film kedua ini dipilih karena tim geng gong memutuskan untuk nonton lagi.

Comme un Chef atau The Chef (judul Englishnya) adalah film yang menceritakan tentang perjalanan karir seorang koki. Ia adalah Jacky Bonnot, koki yang sebenarnya sangat pandai dalam urusan memasak. Awalnya, dia bekerja di restoran kecil. Namun, ia membuat konflik dengan mengubah pesanan pelanggan yang menurutnya kurang pas jika dipadukan dengan wine pilihannya. Peristiwa ini sempat menuai kegaduhan di restoran tersebut. Alhasil, Jacky dipecat dari pekerjaannya ini.

Beatrice, istri Jacky yang sedang hamil, tentu merasa sedih melihat kehidupan karir suaminya yang tidak mempunyai jaminan baik. Terus mencari pekerjaan yang setidaknya dapat menafkahi keluarganya, Jacky memutuskan untuk menjadi Tukang Cat.

Ketika dia sedang bekerja, enggak sengaja, Jacky ngelirik ke dapur. Insting sebagai chef pun nyala. Ngecat dan nyambi bantu di dapur untuk masakan manula rupanya menjadi awal karirnya.

Sup sayuran buatan Jacky menjadi favorit bagi para manula. Salah satu kakek yang juga bos dari pemegang saham di Restauran Lagarde pun mengakui kelezatan sup ini. Alexander Lagarde, seorang koki profesional berbintang tiga, datang ke tempat Kakek ini. Ia pun ikut mencicipi sup buatan Jacky. Kebetulan, Lagarde ini sedang mencari asisten baru.

Dilema buat Jacky. Mendapat tawaran magang sebagai asisten seorang chef ternama dan berbintang tiga tentu ragu untuk ditolaknya. Namun, Jacky sudah berjanji dengan Beatrice untuk tidak tergiur tawaran bekerja di restauran.

Diam – diam, Jacky pun meninggalkan pekerjaan sebagai tukang cat dan memilih menjadi asisten Lagarde. Di restauran ini, Lagarde mendapat tantangan Stanislas Matter untuk mempertahankan bintang tiganya. Kalau bintang milik Lagarde turun, maka karir sebagai chef ternama pun akan hancur. Apalagi, ketika hari para penguji masakan datang, Lagarde tidak bisa hadir dikarenakan harus menghadiri sidang skripsi anaknya.

Hari tibanya tim penguji membuat Jacky mengalami kegalauan. Tidak ada bahan masakan sama sekali di dapur! Akan tetapi, telepon dari Beatrice sang istri menjadi obat tersendiri bagi semangat Jacky. Walaupun istrinya tahu Jacky telah melakukan kebohongan padanya, namun Beatrice memaafkannya. Apalagi, Jacky sudah menjadi seorang ‘new daddy’.

Kekreatifan Jacky dan timnya berhasil menyelamatkan Restauran Lagarde dan Chef Alexandre Lagarde untuk menjaga bintangnya. Namun, Lagarde mengundurkan diri untuk bekerja sebagai Chef di Restauran Lagarde dan memberikan jabatan chef kepada Jacky. Being a famous chef comes true for Jacky.. Yay!

Image

Film komedi ini enggak berat dan ceritanya gambarin kehidupan sehari – hari. Ya, buat pelajaran hidup kisah ini cukup menginspirasi.

Film selanjutnya adalah Intouchables. Kisah ini adalah kisah nyata di Perancis. Menyentuh sekali!

Philippe seorang pria kaya raya dengan keterbatasan ingin mencari seorang pengasuh. Dengan mengadakan seleksi wawancara, ia berharap dapat mendapatkan sosok pengasuh yang pas untuknya. Briss seorang pria asal Senegal akhirnya dipilih Philippe untuk menjadi pengasuhnya. Tak ada yang menduga ia dapat terpilih. Pasalnya, ia bukanlah sosok yang lembut. Pria jalanan ini pun memulai kehidupannya sebagai seorang pengasuh.

Rutinitas baru pun ia jalani. Pada awalnya, berat baginya menjalankan pekerjaan ini. Hingga suatu hari, ketika Philippe mengalami sesak nafas, Briss membawanya keliling kota pada Shubuh. Disinilah kedekatan mereka terjalin. Bahkan Briss mengajarkan merokok kepada bosnya. Philippe pun memahami sikap dan kesukaan Briss, begitu pula sebaliknya. Bahkan musik klasik yang sama sekali dianggap Briss membosankan, berkat Philippe, ia menjadi senang mendengarkan.

Cerita yang mengambil alur flashback ini memang mengharukan. Suatu hari Briss mengurungkan diri dari pekerjaannya. Ia harus kembali ke timpat tinggalnya, suatu kota di Perancis. Mau tak mau, Philippe harus mencari pengganti Briss. Akan tetapi, Briss meninggalkan kesan mendalam padanya. Tidak ada pengasuh yang dapat menggantikan sosok Briss.

Mendapat panggilan dari rekan pengasuh di rumah Philippe, Briss diminta untuk kembali. Kedua rekan ini akhirnya kembali bersama dan melakukan perjalanan ke suatu kota. Rupanya, Briss telah mengatur rencana untuk mempertemukan Philippe dengan seorang gadis yang menjadi sahabat penanya. Akhirnya, setelah mengalami berbagai lika liku untuk bertemu dengan gadis pujaannya, Philippe dapat bersatu dengannya.

Image

Touching juga ya nonton film ini. Perbedaan ras gak menghalangi kedekatan mereka. Yang penting dilihat dari hati. Sekilas sih, Briss emang kelihatan muka preman. Tapi, hatinya gak sepreman yang dibayangkan. Recommended banget buat dua film ini! Sering – sering deh diadakan festival film Perancis lagi! Au revoir!